Hai, saya ucapin
selamat datang buat yang udah mampir ke blog si Udin. Delapan belas tahun hidup
si Udin yang tanpa postingan akhirnya berakhir hari ini. Yup, ini memang positingan
pertama si Udin. So, nanti jangan
nyesel kalo tulisannya kacau balau :D
Disini gue mau bahas
sesuatu yang menurut gue sangat absurd dan komples, yaitu cita-cita. Ternyata
cita-cita gak se simpel yang gue kira. Gue baru sadar bahwa ternyata dalam 18
tahun gue udah 4 kali ganti cita-cita. Nah, pergantian-pergantian cita-cita itu
membuat gue menemukan hipotesis tentang cita-cita. Menurut gue, cita-cita itu
dipengaruhi oleh sesuatu, kalo dibuat rumus kayak gini nih :
dengan
s = sesuatu
c = cita-cita
Untuk njelasin hipotesis
ini gue ngambil contoh diri gue sendiri. Waktu SD dulu gue bercita-cita jadi
pembalap. Menurut hipotesis gue ada “sesuatu” yang mempengaruhi cita-cita gue.
Setelah gue inget-inget ternyata gini ceritanya, dulu waktu SD acara tv yang
pertama kali gue liat adalah balap motor. Setelah nonton acara itu gue jadi
termotivasi pengen jadi pembalap. Menurut pandangan gue waktu itu, pembalap itu
keren dan asik :D , kerjaannya cuman main-main motor kayak gitu.
Seiring berjalannya waktu
cita-cita gue berubah, juga karena “sesuatu”. Seingat gue sih gini ceritanya,
dulu waktu kelas 4 SD kakak gue dibeliin komputer sama bokap. Dan mulai saat
itu juga gue jatuh cinta sama kotak ajaib itu. Hampir setiap hari gue mainin
kotak ajaib itu, pertama-tama sih cuman main game tapi lama kelamaan karena
rasa ingin tahu yang tinggi setiap folder dalam partisi sistem (kalo gak salah
C) gue bukak dan gue otak-atik karena gue kira ada game yang tersembunyi disana.
Dan akibatnya sudah jelas, dalam waktu yang singkat komputer gue rusak. Namun,
hal itu malah membuat gue semakin tertarik dengan benda ajaib itu. Ketertarikan
itu semakin besar saat gue ketemu sepupu gue, (sebut aja mas Ari) yang udah SMA
dan jago banget komputer, katanya dia bercita-cita mau jadi programmer. Sejak
saat itu gue sering baca majalah komputer dan belajar bareng mas Ari dan sejak
saat itu juga gue pengen jadi programmer. Jadi waktu SMP, gue udah merubah
cita-cita gue yang semula pembalap jadi programmer.
Sekedar selingan biar gak
bosen, waktu nulis postingan ini gue baru sadar bahwa dulu harusnya gue dapet
penghargaan dari MURI sebagai Overclocker
termuda se-Indonesia Raya. Waktu kelas 1 SMP mungkin karena kebodohan gue, gue
pernah meng-overclock prosessor
Pentium III tanpa pendingin tambahan apapun ( buat yang belum tahu, gampangnya
overclock itu ningkatin kecepatan prosessor). Prosessor Pentium III gue yang
semula clocknya cuman 500 Mhz gue
naikin jadi 600 Mhz dan hasilnya gotcha!
berhasil men. Karena berhasil, gue nglanjutin eksperimen gue. Clocknya gue
naikin lagi jadi 700 Mhz dan hasilnya tercium bau seperti bau baju yang gosong
kena setrika. Ternyata prosessor Pentium III gue overheat (kepanasen) dan tewas seketika. Dan tanpa rasa bersalah
sedikitpun gue bilang ke bokap gue “Maaf pak, komputernya rusak lagi :D
Kembali ke topik,
ternyata cita-cita gue yang menggebu-gebu mau jadi programmer akhirnya gak
bertahan lama. Hal ini lagi-lagi merupakan ulah “sesuatu.” Kali ini “sesuatu”
nya agak beda dan spesial. Jadi gini ceritanya, dulu waktu kelas 3 SMP gue
naksir sama cewek, sebut saja Desi. Si Desi nglanjutin sekolahnya ke SMK
Farmasi dan gue ke SMA. Saat itu gue
mikir, bagaimana nantinya bisa kerja bareng si Desi. Nah, saat naik kelas 2,
gue yang sebenernya gak suka itung-itungan, yang lebih milih sejarah daripada
matematika terpaksa milih jurusan IPA demi si Desi, ciee :D . Logika gue waktu
itu gini : “Gue harus masuk jurusan IPA dan jadi Dokter biar bisa kerja bareng
Desi”. Dan akhirnya si Desi dan logika konyol gue adalah ‘sesuatu” yang
lagi-lagi mampu merubah cita-cita gue.
And finally, perjalanan cita-cita gue berlanjut
ketika masa-masa kelas 3 SMA. Waktu itu gue bingung setengah mati pas mau milih
jurusan buat kuliah. Waktu itu juga gue sadar bahwa otak IPS gue gak bakal sanggup
menembus ketatnya persaingan masuk Fakultas Favorit Sejagat Raya, Fakultas
Kedokteran. Karena itu gue mulai mencari jurusan yang cocok buat gue.. Gue
pengennya masuk jurusan di Fakultas Teknik karena fakultas itu kebanggaannya
anak IPA. Selain itu, pertimbangan gue yang lain adalah jurusan ini harus gak
banyak itung-itungannya, jadi gue cari jurusan di fakultas teknik yang gak
banyak itungannya. Ternyata ada juga men, Subhanallah, yup, it’s geological engineering :D. Akhirnya untuk yang ke-empat kalinya
cita-cita gue berubah, gue mau jadi geologist
(ahli geologi).
Kesimpulannya, emang
cita-cita kita itu sangat dipengaruhi oleh “sesuatu”. “Sesuatu itu biasanya
merupakan pengaruh dari luar diri kita. Kita harus berterimakasih pada
“sesuatu” itu karena “sesuatu” itu membuat hidup kita lebih berwarna. Tetapi
nggak selamanya “sesuatu” itu baik. Karenanya, kita harus bisa memilih mana
“sesuatu” yang baik buat kita (tumben si Udin bisa bikin kata-kata bijak kayak
gini :D)
Cita-cita itu penting
men. Dalam hidup ini kita butuh cita-cita. Cita-cita sangat mempengaruhi cara
kita menjalani hidup dan masa depan kita. So,
bagi yang belum punya cita-cita segera tentukan cita-cita kalian lalu
berjuanglah untuk meraihnya :) .
15.05 |
Category: |
3
komentar

